Cerita Raisya ceria Z juga.. It's OK to be different.

Sepulang dari pesantren kilat, saat melihat hasil jepretan saya ini, Z cerita kalau Raisya sering diolok-olok di sekolah.
"Kayak Z, Ma..Gak banyak yang mau main sama dia..Tp dia sebenarnya OK kok, Z main kok sm Raisya."
*dlm hati saya : WHAAAAAAAAAT?!!!!! Saya tau Z sering diolok-olok namun selama ini ia menyikapinya dengan baik tapi mendengar hal tersebut keluar dari mulut mungilnya bikin jiwa pendekar saya bergetar.* "Memangnya siapa yang sering ejek Z di sekolah?" Tanyaku.
"Ya banyak, Ma... Kids call me names at school."
*si Z tenang aja waktu cerita ini* "Siapa, Z ?!!" *Z menatap saya* "It's OK, Ma.. Mereka juga udah takut sama Mama sekarang, nanti jadi tambah takut lagi kalau Mama marah2."
GUBRAX!! Si Z memang gak pernah keberatan untuk sendiri*lagian memang dia anak tunggal* dan tidak juga keberatan untuk bermain bersama. Ia tidak pernah berada dalam lingkaran anak-anak popular di sekolah. Untungnya dia mengerti bahwa menjadi anak yang BERBEDA dari kebanyakan anak lain itu bukanlah sesuatu yang salah. Semoga orang tua lain bisa memberi arahan pada anak-anaknya bahwa anak-anak seperti Raisya atau Z sebenarnya sama seperti mereka.. Mengerti & sedih jika dipandang tidak pantas untuk bermain bersama. Untung Z bisa mengarahkan emosinya dengan pembuktian nilai sekolah yang cemerlang, saya tidak tau bagaimana pelampiasan emosi anak-anak lain yang mengalami hal yang sama. Sekolah seharusnya menjadi tempat agar pribadi anak bisa berkembang dengan baik, tapi jika bully baik fisik atau verbal terjadi di sekolah, hmmm.. Tidak semua anak bisa "sukses" ujian sosial ini. Sesungguhnya ini masalah sosial kita bersama. Karena cerita ini bisa saja menjadi cerita anak2 kita, apakah mrk sbg PELAKU atau KORBAN.

Pribadi anak yang BERBEDA tidak harus berarti autistic, ADD, ADHD atau cacat mental. BERBEDA, artinya memiliki pemikiran & sikap yang tidak seperti anak-anak kebanyakan. Saat anak-anak lain sibuk pacaran, jadi-jadian (bukan setan) anak yang normalnya memikirkan pelajaran di cap BERBEDA atau ANEH. Saat anak-anak lain sibuk BBM an, hanya karena tidak juga miliki BB ia dianggap BERBEDA atau GAPTEK. Saat anak-anak lain asik bermain, yg berkutat dengan pelajaran dan meraih prestasi dipandang NERD (as if nerd is a bad terminology). Saat anak-anak gaul pakai istilah Loe & Gue, mereka yang dengan santun berbicara dinilai gak gaul. Standard anak normal rupanya sudah berubah. Keadaan sosial ini tidak bisa kita bawa mundur lagi, artinya pendidikan akhlak & pemahaman nilai-nilai BAIK & BURUK yang diajarkan oleh semua agama sepenuhnya tanggung jawab orang tua. Saya masih harus belajar banyak dlm mendidik amanah RABB ini. Bagaimana mengarahkan anak saya agar tetap teguh pada yang BAIK menurut ajaran agama walau kemudian dia akan dinilai BERBEDA di lingkungan sosialnya.
Ina Madjidhan
15 September 2012

Comments

Popular posts from this blog

Hanya 5% yg lolos sbg pendonor platelet trombosit Apheresis.

REPRESENTASI DIRI MELALUI JEJARING SOSIAL.

Insya Allah atau In Shaa Allah?