A BOY WITHOUT A FACE.

Namanya Ardy.

Dulu ia seperti anak belasan tahun lainnya, memiliki kenakalan yang sama, keinginan yang sama, sampai kanker menjadi ujian dalam hidupnya. Semua menjadi tidak sama lagi.

Tapi dulu saya belum mengenalnya, tak pernah melihat wajahnya, bagaimana bentuk hidungnya, hingga hari ini pertama kalinya saya melihat wajahnya sebelum kanker bersemayam & dekat dengan hari-harinya.

Kemudian saya menyadari.. Kepedulian saya padanya tak ada sangkut pautnya dengan rupanya. Atau siapa dia dulu dan setelah hari ini.

Saya peduli, bahkan jika ia tak memiliki rupa. Hanya anak lelaki dengan nama.

"Orang-orang jika melihatku, seperti melihat setan." Ucapnya.
"Pentingkah rupa, jika bagiku Ardy adalah anak lelaki tanpa rupa?" Tanyaku. Saya melihat senyuman di matanya..

Matanya, adalah satu-satunya yang saya kenali dari photonya saat ia belum bersahabat dengan kanker. Kembali saya menyadari, andai saya tak mengenali mata itupun, perasaan saya akan tetap seperti saat ini.

Saya peduli, bahkan jika ia tak memiliki rupa. Hanya anak lelaki dengan nama. Yang memiliki keberanian, kesabaran & keyakinan bahwa TUHAN nya tak pernah salah dalam mengambil keputusan.

Dari Kak Ina untuk Ardy.
Jakarta, 20 Februari 2013.

Ina Madjidhan | @inagibol

Comments

Popular posts from this blog

Hanya 5% yg lolos sbg pendonor platelet trombosit Apheresis.

REPRESENTASI DIRI MELALUI JEJARING SOSIAL.

Insya Allah atau In Shaa Allah?