Anak Pintar vs Anak Baik.

Masa Ulangan telah usai, ibu-ibu bercerita bagaimana nilai anak-anak mereka. Upaya yang dilakukan untuk mencapainya. Tapi di telinga saya? ..bla bla bla bla.. itu yang saya dengar.

Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, anak-anak belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti.
PENTING SANGAT mendapat nilai terbaik, masuk ke sekolah favorit. Sampai-sampai ada orang tua yang memposting nilai-nilai anaknya di jejaring sosial. PENTING SANGAT, TAUUUK!!
Putri saya sedang santai tenggelam dalam novel-novelnya. Cemerlang, dan saat ia ikut membagikan nasi bungkus #jumatBERBAGI sambil tersenyum, dimata saya ia gemilang. 

Ada rasa syukur saya tidak menaruh TEKANAN demikian besar untuk hal-hal yang PENTING SANGAT untuk sebagian orang tua itu.

Yang saya inginkan hanya agar ia berada dalam kondisi sehat, hidup dengan bahagia, tidak ada rasa bersalah dalam hati, menjadi seorang yang baik hati dan jujur.   
  
Khalil Gibran mengungkapkan :
Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. 
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. 
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu. 
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu. 
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri. 
Patut kau berikan rumah untuk raganya. 
Tapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.

Ya, saya bertekad agar putri saya tetap mendapatkan haknya sebagai seorang anak, tanpa beban sosial dan tekanan agar ia menjadi anak pintar. Bahagia adalah mengetahui ada kebaikan dan kejujuran pada dirinya. Just be kind.. RABB will take care of the rest.

Ina Madjidhan, 11 Oktober 2013.
Untuk putriku.

Comments

Popular posts from this blog

Hanya 5% yg lolos sbg pendonor platelet trombosit Apheresis.

REPRESENTASI DIRI MELALUI JEJARING SOSIAL.

Insya Allah atau In Shaa Allah?