KEMATIAN

Jika saya mengetahui kehidupan tak akan lama lagi bersama saya.

Saya akan memeluk erat putri saya dan mengatakan padanya bahwa bahkan oleh kematian yang memisahkan kami, saya sesungguhnya tak pernah meninggalkan dia. Saya akan selalu ada dihatinya untuk mencintainya, dan saya meyakini RABB akan selalu membimbing dan melindunginya jauh lebih baik dari saya. Bahwa saya akan sangat merindukan saat memeluknya, mencium wangi rambutnya, membelai pipinya saat ia tertidur dimana saya selalu membisikkan "Mama sayang Z."
Dan saya akan katakan padanya untuk tidak mengenang saya dalam kesedihan, tapi untuk mengenang saya tiap kali ia tersenyum karena ia tahu pasti, hal yang paling membahagiakan bagi saya adalah melihatnya bahagia.

Kita jarang sekali berbicara mengenai kematian, seolah-olah ia adalah hal yang menakutkan. Padahal ia merupakan "saat" yang akan dialami tiap makhluk hidup sebagaimana kelahiran di dunia dan merupakan "saat penting" dalam kehidupan itu sendiri.

Saya tahu saya akan mati satu hari nanti, saya tidak tahu kapan dan bagaimana. Tapi saya tahu saya harus meninggalkan orang-orang yang saya cintai atau merekalah yang harus meninggalkan saya terlebih dahulu. Keyakinan inilah yang menjadi paradox kenapa saya melakukan pendampingan pada pasien-pasien penyakit terminal. Inilah mengapa tiap kematian yang saya saksikan menyentuh diri saya dengan cara yang luar biasa indah. Kematian yang menghadirkan pertanyaan pada diri saya : "Lalu apa tujuanmu berkehidupan? Selain untuk menyembah RABB?"

Orang-orang seperti saya yang berkesempatan mendampingi mereka pada saat-saat terakhir dalam kehidupan, memahami bahwa kami memasuki wilayah terintim dari hidup seseorang. Sebelum kematian menjemput, seseorang akan berusaha meninggalkan jati dirinya pada orang-orang yang berarti dalam kehidupan mereka, apakah bahasa tubuh, perkataan yang selama ini terpendam dan bahkan sekedar pandangan untuk menandai betapa berarti orang tersebut baginya.

Sekian lama begitu sering menyaksikan bagaimana proses kematian, ia menjadikan diri saya hidup dengan gejolak yang meletup-letup. Saya menjadi lebih sadar akan anugerah kemampuan bernapas, berjalan, berkata-kata, melihat, mendengar dan merasa.
Saya menjadi lebih bergairah menghadapi hidup, saya ingin melakukan semua hal yang mungkin dilakukan bahkan dianggap tidak mungkin bagi sebagian orang, saya ingin turut merasakan kesedihan yang dialami seseorang dengan harapan saya mampu menampung sedikit kesedihan itu agar ia bisa sedikit berbahagia. Saya ingin mengenal mereka yang tadinya sekedar nama dalam hidup saya lebih jauh, saya ingin mengetahui apa yang membuat mereka muram dan tersenyum. Apa angan-angan mereka karena saya ingin membantu mewujudkannya menjadi kenyataan. Saya ingin mereka lebih HIDUP karena mereka seharusnya paham betapa terbatasnya waktu kita dalam kehidupan. Saya ingin mereka menyadari betapa tidak pastinya "NANTI".
Ketidak pastian akan "NANTI" inilah yang mendorong saya untuk melakukan hal-hal yang tadinya hanya merupakan daftar THINGS TO DO yang tak pernah saya selesaikan.
Ia kemudian menjadi THINGS TO DO BEFORE I DIE yang selalu dalam proses pelaksanaan.
Satu persatu daftar panjang itu saya selesaikan. Saya bertekad akan hidup maksimal bermanfaat, terus mempelajari hal baru, mematahkan anggapan tidak mungkin dan tidak bisa. Memilih dengan seksama apa yang menjadi prioritas saya dalam waktu saya yang terbatas dalam kehidupan ini. Memastikan saya menemukan arti kata CINTA, memahaminya dan mengalaminya.

Saya harus mengakui, menyaksikan bagaimana dampak kematian bagi mereka yang ditinggalkan merupakan pengalaman terintens dalam hidup saya.
Saya mengenal kepedihan berlarut yang disebabkan terpisahnya seseorang dari belahan jiwanya, ketidakberdayaan menyaksikan orang yang kita cintai menderita dalam detik-detik terakhirnya, keinginan demikian besar untuk menghentikan penderitaan itu dengan segala cara.

Tapi seiring beratnya dampak kematian itu, saya juga menyaksikan betapa cinta yang mendalam akan mampu melepaskan dengan bermartabat. Kata-kata "CINTA TIDAK HARUS BERSAMA " sungguh benar adanya. CINTA ITU MEMBEBASKAN, ia sangat tidak egois. Dan saat itulah kita akan mampu membebaskan mereka yang dijemput kematian dengan berpegangan erat pada kenangan yang indah, yang menjadi bagian dari cerita kehidupan kita dan yakin RABB yang penuh kasih dan sayang tentu saja lebih baik dalam mencintai. Inilah saat terintim dalam hidup manusia, inilah CINTA.

"Jika kematian terjadi pada diri saya, apa yang akan kau ucapkan?"

"I will miss you."

The best answer so far. Missed me whenever you smile. Whenever you smile, I'm there.


Ina Madjidhan
5 Oktober 2013

Comments

Popular posts from this blog

Hanya 5% yg lolos sbg pendonor platelet trombosit Apheresis.

REPRESENTASI DIRI MELALUI JEJARING SOSIAL.

Insya Allah atau In Shaa Allah?