Home

HOME is where our story begins......
And ended.....

Ajaib rasanya, bagaimana bangunan yang dulu biasa kusebut rumah ini, kini hanya menjadi tempat tinggal bagiku. Brick by brick, it was my sweat and blood. I was so damn proud of this place that I used to called HOME.

Tapi sekarang, tak lebih dari sekedar tempat berteduh. Tidak ada rasa tersisa yang membuatku ingin berlama-lama di sini. Aku memalingkan wajah tiap melintasi selasar, atau saat pintu ruang shalat di lantai dua terbuka. Terkadang aku miliki keberanian untuk memasukinya, jemariku meraba pintu lemari yang menyisakan gurat terkena hantaman kursi kerja dulu. Kilatan kejadian masih datang. Pegangan pintu lemari penyebab lebam, atau bunyi pintu terkunci penanda kebebasan hilang sesaat.

Saat menjelang tidur dan aku mengunci pintu kamar, aku teringat betapa seringnya dulu pintu ini menjadi luapan kekesalan manusia-manusia di tempat ini. Suara bantingan pintu jati yang menggetarkan jendela-jendela rumah. 


This house, it's not a home to me anymore.

At the end of the day, it isn’t where I came from. Maybe home is somewhere I’m going and never have been before.






Comments

Popular posts from this blog

Hanya 5% yg lolos sbg pendonor platelet trombosit Apheresis.

REPRESENTASI DIRI MELALUI JEJARING SOSIAL.

Insya Allah atau In Shaa Allah?