Emergency Door


Sejak awal tahun 2017, banyak sekali kawanku yang BERCERAI.
Iya, CERAI adalah kata yang menakutkan.

Saat aku memutuskan untuk bercerai tahun 2013 dulu, aku kehilangan banyak teman. Ini cukup menarik untuk diperhatikan sebenarnya.

KENAPA KITA KEHILANGAN TEMAN SAAT KITA BERCERAI?
Padahal kan perkawinan kita tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain.
Ingat, ini adalah observasi dan pendapat pribadi dari pengalamanku sendiri, tentu bisa saja berbeda pada orang lain.

Jika kita mendengar kabar atau cerita dari kawan kita yang apakah dengan sedih atau dengan lantang mengatakan "Aku dalam proses bercerai"
Coba jujur, ada kekepoan (rasa ingin tau) apa sebenarnya yang terjadi? Kemudian pilihan kita adalah :
1. Menjadi pendengar, apakah nanti menjadi bahan gosip atau menjadi teman yang baik yang menyerap kisah kawan kita tersebut dan berempati.
2. Menghindar karena merasa tidak nyaman dan serba salah terutama jika pasangan yang bercerai itu keduanya adalah teman kita. 

Hasil dari kedua pilihan diatas, biasanya adalah si pendengar menjadi condong memihak. Padahal mereka tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi hinggal keputusan BERCERAI itu diambil. Namanya juga bercerita soal mengapa bercerai dalam dua atau tiga jam, sementara perkawinannya tigabelas tahun, bagaimana mungkin bisa disampaikan seutuhnya?
Menurutku, tidak ada manusia yang menikah dengan niat untuk bercerai. Bercerai itu seperti pintu darurat, yang hanya akan dilalui dalam keadaan sangat terpaksa. 
SANGAT-SANGAT TERPAKSA. BUNTU! GAK ADA JALAN LAIN.

Sebagai manusia dewasa seharusnya kita bisa lebih bijak menyikapi hal ini. Kenapa harus berpihak? Apalagi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. 
Memangnya kita gak bisa tetap berteman dengan keduanya?

Ada satu quote yang bagus sekali "WE ARE NOT AS WE POST TO BE".

Kita semua memiliki rahasia ataupun cara agar dapat bertahan menjalani hidup sebagai makhluk sosial. Ada yang berpura-pura, ada yang seperti aku, memilih memperlihatkan apa adanya. Walaupun begitu, tetap aja ada yang ditutup-tutupi. Siapa sih yang mau mengaku kalau dirinya busuk banget? Aku sih gak mau, kasih liat busuk sedikit aja, yang banget disimpan untuk diri sendiri, berharap gak ada yang tau.

Jadi, waktu beberapa kawanku yang pada saat itu menyampaikan bahwa mereka ingin bercerai, aku langsung menyampaikan "Kamu paham kan, kamu mungkin akan kehilangan beberapa teman, hampir semua aib mu akan keluar baik disengaja ataupun tidak, anak-anakmu akan mengalami masa yang sulit, keluargamu mungkin bersedih, mungkin sebagian bisa legowo hanya ingin yang terbaik untukmu, lingkungan sosial akan memandangmu berbeda semata-mata kamu dianggap gagal dalam perkawinanmu. Apalagi nanti berstatus janda. Tapi apapun keputusanmu dan alasanmu, apakah kamu benar atau salah, kamu harus tau, sebagai temanmu aku akan selalu mensupportmu, karena aku paham tidak mudah untuk sampai pada keputusan ini, dan aku hanya ingin kamu bisa berbahagia."

*untuk semua kawanku yang sedang ataupun pernah melalui PINTU DARURAT PERKAWINAN*

Ina Madjidhan
May 2017

Comments

Popular posts from this blog

Hanya 5% yg lolos sbg pendonor platelet trombosit Apheresis.

REPRESENTASI DIRI MELALUI JEJARING SOSIAL.

Insya Allah atau In Shaa Allah?