BAHAGIA X BENDA.


Menikah (lagi) diusia 43 tahun membuka begitu banyak pandangan mengenai hidup.
Setelah pengalaman yang dilalui diperkawinan sebelumnya ditambah suami yang berbeda kebangsaaan dan terpaut usia yang cukup jauh, tidak pernah terbayangkan bahwa caraku melihat kehidupan akan seperti hari ini.

Kebendaan bukanlah lagi hal yang penting, namun 'gaya hidup' menempatkan posisi diatas kebendaan.

Sudah memiliki atau sudah pernah memiliki berbagai model jam tangan, tas, mobil dan benda-benda lainnya, sudah melewati masa pergaulan dimana status sosial cukup memegang peran dalam bersosialisasi. Hal-hal diatas menjadi SEKEDAR benda dan status.

Kami berdua sepakat untuk memiliki benda yang memberikan arti dalam hidup kami. Nominal benda tersebut tidak relevan lagi, bisa jadi sangat mahal atau murah tetapi bermakna, berfungsi dan yang utama adalah DIPERLUKAN dalam hidup kami.

Membuka lemari dapur di apartement kami di Melbourne, akan terlihat 4 piring makan, 4 piring kecil, 4 mangkok, 4 sendok besar dan kecil, 4 garpu, 4 pisau. Dan masing-masing 1 alat memasak seperti panci, penggorengan dan lain-lain.

Semua dalam jumlah minimal, desain polos, kualitas baik. Karena hanya itulah yang kami perlukan di apartement 2 kamar yang mampu menampung 4 orang ini.

Jika salah satu benda yang kami miliki itu pecah atau rusak, sangat mudah untuk menggantinya dengan benda yang sama. 

Aku ingat saat bercerai dulu dan aku harus pindah ke rumah ibuku untuk menemani beliau dikarenakan ayahku meninggal dunia. Jari kaki dan tangan tidaklah cukup untuk menghitung banyaknya benda yang kumiliki, yang pada akhirnya kuhibahkan dan kubuang tanpa ada rasa penyesalan. 
Semua itu hanyalah benda. 
Saat itu aku menyadari, seluruh hidupku selama 40 tahun itu tidaklah lebih dari sekedar tempat mengumpulkan benda. Benda yang minim makna.

Belajar dari pengalaman yang juga dialami oleh suamiku saat ini, kini setiap kali kami ingin membeli sesuatu, kami saling bertanya "do we really need it? will these things bring joy and meaning into our life?"

Kemungkinan terbesar jawaban dari pertanyaan diatas adalah 'tidak' dan kami menaruh kembali benda tersebut.

Hal positive mengenai hidup 'cukup' adalah kami terbebas akan kekhawatiran. Tidak khawatir benda yang kami miliki rusak ataupun sekedar khawatir akan keberadaannya. 

Lalu bagaimana kami menikmati hidup? Gaya hidup adalah kata kuncinya.
Kami menikmati saat duduk berdua ataupun bersama teman-teman sambil menyantap makanan di restoran favorite kami. 
Aku mencintai perjalanan ke pasar dengan sepeda untuk memilih bahan makanan terbaik yang ada hari itu, hampir setiap hari aku ke pasar, belanja bahan makanan untuk malam itu. Satu kali belanja untuk satu atau dua kali memasak.
Membiasakan diri membeli 1 buah alpukat, 2 potong ikan, 2 buah tomat dan lain sebagainya. Apa yang kami masak hari itu tidak akan ada sisa yang harus disimpan di lemari pendingin.
Dan lihat saja besok akan belanja dan masak apa. Tidak perlu direncanakan. Hidup dijalani tanpa beban. 

Sekedar membelikan secangkir kopi untuk teman atau bahkan untuk seorang asing bisa memberikan kita rasa bahagia.

Mendengar deru ombak saat duduk di pinggir pantai, melihat gerak awan sambil berbaring di taman atau melihat perilaku banyak orang di pinggir jalan, semua itu bisa memberikan kebahagiaan tersendiri.

Aku menyenangi membuat kue untuk kemudian kupotong-potong dan berikan pada Ross tukang rambut di depan apartement dan Apple yang biasa me-manicure kukuku di seberang jalan. 
Dan kuberikan sisanya untuk beberapa orang tuna wisma dekat supermarket di dekat rumah. Sungguh membahagiakan.

Mungkin rasa bahagia terbesar adalah melihat bagaimana putriku tumbuh dewasa, melihat bagaimana ibunya sejak dulu berjuang (walau saat dulu masih sangat kebendaan), aku merasa putriku bisa menghargai apapun yang ia miliki saat ini. 

Hidup 'cukup' bukanlah hidup kekurangan. Hidup 'cukup' berarti kita merasa tercukupi untuk kemudian memiliki hasrat untuk mencukupi orang lain. 

Rasa tercukupi sesungguhnya mudah untuk diraih, apalagi sebagai seorang manusia beriman kukira lebih mudah untuk merasa cukup, tak perlu aku sampaikan ayat Alquran maupun hadist disini, aku yakin kawan-kawan sekalian sesungguhnya juga mengerti, pesanku hanya satu : TIDAK PERLU MENUNGGU HINGGA MENGALAMI PENGALAMANKU UNTUK MENGERTI BAHWA HIDUP BUKANLAH MENGENAI KEBENDAAN. KITA SEMUA INGIN BAHAGIA, DAN SADARILAH BAHWA RASA BAHAGIA TIDAK ADA URUSANNYA DENGAN BENDA.

Aku berdoa agar kalian semua yang membaca tulisan ini bisa meraih rasa bahagia. Aamiin. 

Ina Madjidhan
Agustus 2017

Comments

Popular posts from this blog

Hanya 5% yg lolos sbg pendonor platelet trombosit Apheresis.

REPRESENTASI DIRI MELALUI JEJARING SOSIAL.

Insya Allah atau In Shaa Allah?